Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Tentang Membangun Biro Konsultan SDM Part 1

Ini tentang cita citaku membangun sebuah biro konsultasi Psikologi.. Cita cita ini mulai muncul pada pertengahan masa kuliah di S1.. Kira-kira tahun 2008 awal.. Tepatnya pada pertengahan Tingkat 2.. Pada saat itu aku belum tau bagaimana mewujudkannya.. Belum lagi soal mimpi-mimpiku yang lain.. kuliah lagi dengan biaya sendiri.. kemudian menjadi dosen.. Random kiranya semua mimpi itu, dan aku pada saat itu belum menemukan benang merah antara masing-masing mimpi.. Aku menyelesaikan kuliah S1 tepat 3,5 tahun dan bekerja pada sebuah BUMN. Tepat 2 tahun setelah aku bekerja disana yaitu tahun 2012, aku mulai melihat kemungkinan terwujudnya salah satu mimpiku yaitu kuliah lagi. Mengambil kuliah MBA sebenarnya bukanlah pilihan utama.. Aku ingin melanjutkan kuliah di Psikologi. Dan aku tidak menyesal, karena ternyata memang ilmu manajemen berguna untuk batu tumpuan mimpiku selanjutnya yaitu biro konsultan.. dan menjadikan impianku to become lecturer semakin terarah.. Maka dengan beg

Menggapai Impian

Aku adalah seorang pemimpi sejati.. Sudah memiliki keinginan dan impian yang dituliskan dimanapun, di laptop di kertas,, di hp dan di ingatan.. Pada tahun sekian akan melakukan ini itu dan lainnya.. Aku adalah aku, gadis pemimpi yang memiliki sejuta asa dan dipatrikan tepat di urat-urat leher.. Nadi ku berdetak menghembuskan impian.. ingin jadi orang besar.. Jantungnya menyuarakan gairah dan semangat menggapai mimpi.. Mimpiku tidak selalu diluar khayalan, mimpiku adalah seperti mimpi beberapa orang di bumi.. Sebuah mimpi yang sangat mudah digapai oleh seorang yang memiliki sumber daya. Tapi bagiku kala itu, mimpiku adalah sesuatu yang harus diupayakan.. Dan aku beruntung karena pada akhirnya setiap mimpi itu perlahan dapat tergapai.. meski dengan tertatih-tatih.. Mimpiku tidak selalu mudah diraih.. Berkali kali jatuh dan harus mulai dari nol lagi..untuk setiap mimpinya dan pergolakan jiwa menghadapi kehidupan Ada lelah yang tak terbayar, ada doa yang terus terpanjat, ada

Me Time

Gambar
Semua orang selalu membutuhkan waktu sendiri setiap harinya. Me, my self and I mendukung seseorang dalam mencapai kebahagiaan diri sejati. Karena sebenarnya ketidakpuasan. Rasa kekecewaan semuanya berpangkal pada ketidaksanggupan diri menerima dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki me timenya sendiri. Ia akan lebih memahami dirinya. Lebih menghargai keinginannya. Bertahan untuk sesuatu yang berharga dan dapat melepaskan serta mengikhlaskan sesuatu yang tidak menghargainya. Seseorang dengan penghargaan diri yang baik, tidak membutuhkan penghargaan lagi dari orang. Dan ia akan minim dari kekecewaan. Karena kecewa sering datang dari pengharapan kita pada orang lain. Karena itulah, luangkan waktu setiap harinya untuk me time dan istilah dalam agama saya adalah bermusahabah yaitu me time yang diiringi introspeksi diri. Bandung 14.12.2014 aya

The Power of Doa

Seringkali kita membaca artikel ataupun video mengenai kekuatan keyakinan. Dalam ilmu psikologi populer ada pula hukum Law of attraction yang menyatakan bahwa kekuatan pikiran dapat mewujudkan sebuah impian. Hal tersebut sepemahaman dengan quote terkenal: And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it (Paulo Coelho, The Alchemist). Memang secara pemikiran hal tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Keyakinan seseorang dapat tertanam sampai level unconsious yang dapat mendrive perilaku seseorang dan membuat seseorang melakukan usaha untuk menggapai keyakinan tersebut (apabila belum tergapai). Usaha tersebutlah yang menjadikan keyakinan tersebut kenyataan. Sadar ataupun tidak seseorang dengan upaya yang dilakukannya. Tetapi bagi saya, ada yang lebih kuat dari sekedar keyakinan. Lebih kuat dari universe. Yaitu Allah. Sandaran yang Maha Besar Maha Pemurah dan Maha Segala galanya. Lalu mengapa tidak disandarkan saja semua keyakinan tersebut pada

Sudut Pandang

Saya baru saja mendapatkan pelajaran yang baik sore ini. Tentang pesimistis. Orang yang pesimis cenderung melihat dunia dari kacamata negatif. Hari ini saya bertemu teman yang sama sama berstatus single alias belom married. Kami bertemu disuatu acara pernikahan sahabat baik saya. Suasana yang membahagiakan dan mengharukan bagi saya. Pesimistis teman saya tersebut terlihat dari cara dia memandang status single dirinya. Dari kata katanya yang membandingkan dirinya sendiri dengan teman saya yang statusnya sudah married. Misalnya begini "kalau minta tolong foto tuh sama suami Ndin. Lah kita sama siapa?" Atau "kalo dia lagi merah asi, lo ngapain Ndin?" Saya mengerti sekali arah pembicaraannya tersebut. Mungkin karena budaya di sini juga mendukung pembullyan pada orang berstatus single yah. Jadi mereka yang berstatus single merasa pantas untuk di bully dengan kata kata seperti itu. Sayang sekali teman saya tersebut yang notabenenya juga masih single salah memilih s

Tentang Upaya

Membuat ulasan mengenai upaya, membuat saya berpikir mengenai individual differences. Istilah yang seringkali diucapkan oleh seorang mahasiswa psikologi. Individual differnces merupakan istilah yang dilabelkan pada perbedaan individu yang membuat masing-masing menjadi unik. Sebagai contoh, cara seseorang berbicara, cara berjalan, cara makan dan lainnya. Terlepas dari keterkaitan budaya, kebiasaan atau nilai-nilai. Coba deh ente perhatiin disekitaran ente, pastilah ente menemukan apa yang saya disini sebut sebagai individual differences. Hal yang sama berlaku juga pada saat seseorang mengupayakan sesuatu. Setiap orang memiliki ciri khas nya dalam berupaya. Katakanlah soal mencari jodoh. Baru baru ini, seorang klien saya mengajak saya berdiskusi soal mencari jodoh. Bagi kebanyakan orang mencari jodoh merupakan suatu tantangan tersendiri. Tapi memang situasinya seperti itu. Setiap orang menggunakan individual differences dalam berupaya. Ini bukan tentang maksimal atau tidaknya upaya